- The teacher made Juan leave the room
- Toshiko had her car repaired by a mechanic
- Ellen got Marvin typed her paper
- I made Jane call her friend on the telephone
- We got our house painted last week
- Dr. Byrd is having the students write a composition
- The policeman made the suspect lie on the ground
- Mark got his transcripts send to the university
- Maria is getting her hair cut tomorrow
- We will have to get the Dean signed this form
- The teacher let Al leave the classroom.
- Maria got Ed washed the pipettes
- She always has her car to fix by the same mechanic
- Gene got his book published by a subsidy publisher
- We have to help Janet to find her keys
Selasa, 01 Mei 2012
tugas b.ing bisnis 2 (causative verbs)
Minggu, 22 April 2012
tugas Bahasa Inggris Bisnis 2 (Passive Voice)
Passive Voice
Perhatikan
kata kerja-kata kerja yang tercetak miring.
Beberapa
kata kerja menggunakan bentuk Active Voice seperti kata mencintai
seseorang, memberi makanan, merobohkan, dan membangun, sedangkan kata kerja
yang lainya seperti kata dicintai seseorang, diberi
makanan, diculik dan dibangun menggunakan bentuk Passive
Voice.
Jadi
gampangnya begini, ketika kata kerja sesudah subject itu bermakna me…
,maka bentuknya Active Voice dan ketika bermakna di… atau ter…
maka bentuknya dinamakan Passive Voice.
Bagaimana
cara menggunakan bentuk Passive Voice ( di…/ ter …) dalam
Kalimat?
Simple!
Berikut beberapa ketentuannya:
A.
Bila kamu mau ngomongkan hal-hal yang terjadinya ,tiap hari, tiap
minggu,tiap bulan, tiap tahun, selalu,seringkali, jarang atau bahkan cuma
kadang-kadang dilakukan misalnya,
- Setiap pagi koran ini dikirim ke sini.
- Dia sering terlibat penyalah gunaan obat
- Pertemuannya diadakan tiap hari senin
- Tempat-tempat wisata disini selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan asing.
Gunakan
Pola :
Subject
+ am/ is/ are + Verb -3 ( by… ).
Contoh :
-
The newspaper is sent here every morning.
-
She is involved in drug abuse.
-
The meeting is held every Monday
-
The resorts here are always visited by a lot of
foreign visitors
B.
Untuk ngomong “sekarang sedang di…” atau ngomongkan aktivitas yang saat
ini sedang dilakukan,
gunakan
pola :
Subject
+ am /is/ are + being + Ver-3 (by… )
Contoh :
- Laporanya sedang dicetak sekarang
The
report is being printed now.
- Mobil-mobilku sedang diperbaiki
My
cars are being repaired
- Novelnya sedang dibaca oleh adik saya jadi kamu nggak bisa meminjamnya sekarang.
The
novel is being read by my sister so you can`t borrow it
now.
C.
Untuk ngomongkan aktivitas yang “telah/sudah/ belum di…”
gunakan pola;
Subject
+ has/have been+ Verb -3
misalnya,
- Uang sudah ditransfer ke rekeningmu
Money
has been transferred into your account
- Formulir ini belum ditandatangani oleh kepala sekolah
This
form has not been signed by the headmaster
- Film itu telah diluncurkan sejak September lalu.
The
film has been launched since last September
D.
Bagaimana dengan ngomong “ di atau ter … “ untuk aktivitas yang lalu/
baru saja/ tadi / tadi pagi/ kemarin/ tadi malam/ minggu lalu/ tahun lalu
dan sebagainya?
Bagaimana
ngomongnya dalam bahasa Inggris? Misalnya kamu mau cerita tentang kesialan yang
menimpamu beberapa waktu yang lalu :
- Tadi malam kami ditelpon orang tak dikenal.
- Kemarin tasku tertinggal disekolah
- Sialnya dompetku juga dicopet dua hari yang lalu.
Gunakan
saja pola :
Subject
+ was/ were + Verb -3 (by…)
-
Last night we were called by a stranger
-
Yesterday my bag was left at school
-
Unluckily my wallet was also stolen two days ago.
E.
Bagaimana kalau ngomong “ kemarin sedang di… atau ter…” Misalnya,
- Kecelakaan terjadi ketika barang-barang itu sedang diturunkan dari truk.
- Dia sedang diwawancarai saat kami datang
Gunakan
Pola :
Subject
+ was / were + being +Verb-3
Jadi
pola diatas digunakan untuk ngomongkan kegiatan yang terjadi pada saat
peristiwa lain terjadi di waktu yang lalu. Maka kalimat diatas akan menjadi:
- The accident happened when the goods were being unloaded
- She was being interviewed when we came
F.
Masih ingat bagaimana cara ngomong” sudah /telah me…atau belum me…?”.
Sekarang
kamu akan mempelajari cara mengungkapkan “telah di/ter …/ sudah
di/ter…/belum di/ter…”. Misalnya kamu mau ngomong:
- Semua uangnya di bank sudah diambil sebelum dia melarikan diri ke Singapura.
- Dia merasa sehat setelah obatnya diminum dua kali sehari
Untuk
ngomong “sudah di …” atau ngomongkan kegiatan yang terjadi
sebelum kegiatan lainya terjadi diwaktu yang lalu,
gunakan
pola:
Subject
+ had been+ Verb-3
Jadi
kalimat diatas diterjemahkan menjadi:
- All of her money at the bank had been withdrawn before she ran away to Singapore
- She felt well after the medicines had been taken twice a day.
G. Kalau ngomong
- ” akan di … ” gunakan will be + Verb-3
- ” dapat di … ” gunakan can be + Verb-3
- ” harus di … ” gunakan must be + Verb-3
- ” mungkin di … ” gunakan may be + Verb-3
- ” seharusnya di “ gunakan should be + Verb-3
Contoh :
- Hasil tes akan segera diumumkan.
The
result of the test will be announced soon.
- Penerbangan dapat ditunda dikarenakan cuaca buruk.
Flight
can be cancelled because of the bad weather
- Setiap orang harus dihormati
Everyone
must be respected
- Suratnya mungkin dikirim lewat ELTEHA
The
letter may be sent via ELTEHA
- Kita seharusnya diberi informasi tentang hal itu.
We
should be informed about that.
Selasa, 03 April 2012
Tugas Bahasa Inggris Bisnis 2
Cause Connectors
** Because/ because of**
because selalu diikuti dengan kalimat lengkap ( Harus ada Verb nya ) ....because of hanya diikuti sebuah kata benda( noun) atau noun phrase.
(tidak boleh ada konjugasi/penghubung antara because of dengan noun ....
Formula :
...because + Subject + Verb ....
ex : the students arrived late _because_ _there_(Subject) _was_(verb) a traffic jam .
...because of + noun (noun phrase) ....
ex: the students arrived late _because of_ _the traffic jam_ (noun phrase).
note :
*Because of sering ditukar dengan due to ...
*Because juga bisa menjadi sebuah awal kalimat ...
ex : because of the rain (noun phrase), we have cancelled the party .
-------------------------------------------------------------------------------------------
**Purpose and result (so that)**
Formula :
Subject + Verb + so that + Subject + verb
cr: http://www.facebook.com/meurygates/posts/1607297482881#!/home.php?sk=group_175573012483911&view=doc&id=209978795709999
Bahasa inggris bisnis 2
Exercise 31 : Nouns Functioning as Adjectives
1. Twelve story
2. Language
3. Three act
4. Two day
5. 79 piece
6. Five shelve
7. 16 ounch
8. Six quart
9. Brick
10. Ten speed
Exercise 32 : Enough
1. Enough people
2. French enough
3. Enough time
4. Fast enough
5. Soon enough
6. Early enough
7. Hard enough
8. Enough slowly
9. Enough flour
10. Enough books
Exercise 33 : Because/Because of
1. Because
2. Because
3. Because of
4. Because
5. Because
6. Because
7. Because
8. Because
9. Because
10.Because of
Exercise 34 : so/suck
1. So
2. Such
3. Such
4. So
5. So
6. Such
7. Such
8. So
9. So
10. Such
11. So
12. So
13. Such
14. So
15. So
Minggu, 18 Maret 2012
Jawaban Tugas Bahasa Inggris Bisnis 2
Exercise 21 Conditional sentences (hal 97)
1. will understand
2. Would not
3. Will give
4. Would told
5. Would have
6. Had
7. Will stop
8. Needed
9. Would have found
10. Had enjoyed
11. Paint
12. Were
13. Writes
14. Had permit
15. Will spend
16. Will accept
17. Buys
18. Had decided
19. Would have writen
20. Will leak
21. Had studied
22. Hears
23. See
24. Gets
25. Turn
26. Are
27. Would have called
28. Would have talked
29. Explained
30. Spoke
Exercise 22 Used to (hal 99)
1. Eating
2. Eating
3. Swimming
4. Like
5. Speaking
6. Studying
7. Dance
8. Sleeping
9. Eating
10. Eating
Exercise 26 : Adjectives and Adverbs (hal 107)
1. Well
2. Intense
3. Brightly
4. Fluent
5. Fluently
6. Smooth
7. Accurately
8. Bitter
9. Soon
10. Fast
Exercise 27 : Linking (Copulative) Verbs (hal 109)
1. Terrible
2. Well
3. Good
4. Calm
5. Sick
6. Quickly
7. Diligently
8. Vehemently
9. Relaxedly
10. Noisy
Exercise 28 : Comparisons (hal 114)
1. As soon
2. More Important
3. As well
4. More Expensive
5. As hot
6. More Talented
7. More Colorful
8. Happier
9. Worse
10. Faster
Exercise 29 : Comparisons 9hal 114)
1. Than
2. Than
3. Than
4. Than
5. Than
6. More Than
7. With
8. Than
9. More Than
10. More Than
Exercise 30 : Comparisons (hal 117)
1. Best
2. Happiest
3. Faster
4. Creamiest
5. More colorful
6. Better
7. Good
8. More awkwardly
9. Least
10. Prettiest
11. The best
12. From
13. Less impressive
14. The sicker
15. Than
16. Twice more than
17. Few
18. Much
19. Farthest
20. More famous
1. will understand
2. Would not
3. Will give
4. Would told
5. Would have
6. Had
7. Will stop
8. Needed
9. Would have found
10. Had enjoyed
11. Paint
12. Were
13. Writes
14. Had permit
15. Will spend
16. Will accept
17. Buys
18. Had decided
19. Would have writen
20. Will leak
21. Had studied
22. Hears
23. See
24. Gets
25. Turn
26. Are
27. Would have called
28. Would have talked
29. Explained
30. Spoke
Exercise 22 Used to (hal 99)
1. Eating
2. Eating
3. Swimming
4. Like
5. Speaking
6. Studying
7. Dance
8. Sleeping
9. Eating
10. Eating
Exercise 26 : Adjectives and Adverbs (hal 107)
1. Well
2. Intense
3. Brightly
4. Fluent
5. Fluently
6. Smooth
7. Accurately
8. Bitter
9. Soon
10. Fast
Exercise 27 : Linking (Copulative) Verbs (hal 109)
1. Terrible
2. Well
3. Good
4. Calm
5. Sick
6. Quickly
7. Diligently
8. Vehemently
9. Relaxedly
10. Noisy
Exercise 28 : Comparisons (hal 114)
1. As soon
2. More Important
3. As well
4. More Expensive
5. As hot
6. More Talented
7. More Colorful
8. Happier
9. Worse
10. Faster
Exercise 29 : Comparisons 9hal 114)
1. Than
2. Than
3. Than
4. Than
5. Than
6. More Than
7. With
8. Than
9. More Than
10. More Than
Exercise 30 : Comparisons (hal 117)
1. Best
2. Happiest
3. Faster
4. Creamiest
5. More colorful
6. Better
7. Good
8. More awkwardly
9. Least
10. Prettiest
11. The best
12. From
13. Less impressive
14. The sicker
15. Than
16. Twice more than
17. Few
18. Much
19. Farthest
20. More famous
Senin, 24 Oktober 2011
Etika Teleologi, Egoisme Etis, Utilitarianisme, Deontologi
Etika Teleologi dari kata Yunani, telos = tujuan, Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Dua aliran etika teleologi :
– Egoisme Etis
– Utilitarianisme
Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
Contoh : Ingin cepat kaya? silakan belajar dari 40 orang terkaya di Indonesia tahun 2010 (versi Forbes Indonesia) yang dirilis awal bulan Desember ini. Apa yang bisa dipelajari dari mereka? Ternyata, setelah direnungkan mendalam, mereka bisa tercatat sebagai orang terkaya lantaran memegang kuat karakter “egoisme etis”
Utilitarianisme berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”.
Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
Contoh : kewajiban untuk menepati janji
Deontologi
Dalam pemahaman teori Deontologi memang terkesan berbeda dengan Utilitarisme. Jika dalam Utilitarisme menggantungkan moralitas perbuatan pada konsekuensi, maka dalam Deontologi benar-benar melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan. ”Deontologi” ( Deontology ) berasal dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu : deon yang artinya adalah kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik, karena dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan.
Contoh : kita tidak boleh mencuri, berbohong kepada orang lain melalui ucapan dan perbuatan.
Sumber :
http://initugasku.wordpress.com /2010/03/03/sekilas-teori-etika/
www.google.com
Oleh: Toto Suparto, Pengkaji Etika
Sumber: Kontan, Senin, 20 Des 2010
Etika Teleologi dari kata Yunani, telos = tujuan, Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Dua aliran etika teleologi :
– Egoisme Etis
– Utilitarianisme
Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
Contoh : Ingin cepat kaya? silakan belajar dari 40 orang terkaya di Indonesia tahun 2010 (versi Forbes Indonesia) yang dirilis awal bulan Desember ini. Apa yang bisa dipelajari dari mereka? Ternyata, setelah direnungkan mendalam, mereka bisa tercatat sebagai orang terkaya lantaran memegang kuat karakter “egoisme etis”
Utilitarianisme berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”.
Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
Contoh : kewajiban untuk menepati janji
Deontologi
Dalam pemahaman teori Deontologi memang terkesan berbeda dengan Utilitarisme. Jika dalam Utilitarisme menggantungkan moralitas perbuatan pada konsekuensi, maka dalam Deontologi benar-benar melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan. ”Deontologi” ( Deontology ) berasal dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu : deon yang artinya adalah kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik, karena dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan.
Contoh : kita tidak boleh mencuri, berbohong kepada orang lain melalui ucapan dan perbuatan.
Sumber :
http://initugasku.wordpress.com /2010/03/03/sekilas-teori-etika/
www.google.com
Oleh: Toto Suparto, Pengkaji Etika
Sumber: Kontan, Senin, 20 Des 2010
Jumat, 21 Oktober 2011
TUGAS ETIKA BISNIS (CSR)
Definisi CSR (Corporate Social Responsibility)
adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. COntoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.
Manfaat CSR bagi masyarakat.
CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.
KEUNTUNGAN BAGI ORGANISASI ATAU PERUSAHAAN YANG
MELAKUKAN PROGRAM CSR
Hingga saat ini masih terjadi perdebatan di anatara para akedemisi dan praktisi dan entrepreneur antara yang menyatakan CSR hanya menambah beban perusahaan dan yang meyakini kinerja sosial penting dan berdampak hubungan positif dengan provit . Pendapat tidak menguntungkan biasanya mengikuti pendirian Milton Friedman atau, baru-baru ini, David Henderson, yang melabel CSR sebagai misguided virtue atau kebaikan yang salah alamat.Sedangkan menurut Friedman dan Henderson berpendirian bahwa tanggung jawab berada di pundak individu, bukan perusahaan. Sebaliknya kalangan yang melihat kekuasaan bisnis kini sudah sangat besar, tidak setuju perusahaan tak dapat diwajibkan pertanggungjawaban terhadap tindakan organisasi nya. Kebijaksanaan universal menyetujui bahwa tanggung jawab membesar bersamaan dengan kekuasaan, sebab itu perusahaan tidak lagi dapat mengelak dengan kewajiban menyisihkan sebagian dari provitnya untuk program CSR.
Sejumlah besar penelitian telah membuktikan kinerja sosial dan kinerja finansial perusahaan berkorelasi positif. Dan karenanya perdebatan mengenai keuntungan menjalankan CSR sesungguhnya dapat dianggap sudah berakhir. Penelitian Marc Orlitzky, Frank Schmidt, dan Sara Rynes pada 2003, menggunakan data 52 penelitian sebelumnya dengan jumlah kasus 33.878 perusahaan yang merentang selama 30 tahun, merupakan bukti terkuat hingga saat ini. Kalau pun ada yang ’’membuktikan sebaliknya, bahwa tidak ada kaitan erat antara kinerja sosial dengan kinerja finansial perusahaan, kesimpulannya hanya didasarkan pada kasus-kasus anekdotal berskala kecil.
Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan dari bisnisnya. Dengan melakukan CSR tujuan ini dapat terpenuhi. Telah ditunjukkan oleh banyak studi kasus, perusahaan memperoleh banyak keuntungan bila keberadaan jangka panjangnya terjamin. Keberlangsungan perusahaan ini erat berkait dengan reputasi, yang diperoleh melalui hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan. Di era ini hampir mustahil perusahaan menggunakan perlindungan kekuatan- kekuatan represif tanpa mengorbankan reputasinya. CSR menjadi pilihan menjaga keberlanjutan eksistensi perusahaan melalui reputasi yang baik; dan bukan hubungan dengan kekuatan represif. Jika perusahaan hanya mementingkan keuntungan finansial pada jangka pendek dan mengorbankan aspek-aspek sosial dan lingkungan yang terjadi sehingga yang terjadiadalah . Ketidakpedulian terhadap aspek sosial akan menuai protes masyarakat yang bisa mengganggu kelacaran dari operasional dari suatu organisasi atau perusahaan (semisal demonstrasi atau boikot).
Terhadap aspek lingkungan, selain reaksi masyarakat, disinsentif juga diterima disinsentif dari pemerintah. Akibatnya, selain biaya operasi membengkak, reputasi perusahaan tercoreng dan pada gilirannya dicerminkan dengan turunnya nilai saham. Implikasi berikut yang mengancam adalah keengganan investor membiayai proyek baru. Maka dari sudut pandang ini, CSR dengan triple bottom line-nya tentu adalah investasi
sangat berharga. Banyak di temukan permasalahan di Indonesia menunjukkan, curahan investasi sosial perusahaan dapat menimbulkan moral hazard berupa perilaku korup pada lembaga- lembaga pemerintah dan LSM Misalnya, ketika diketahui perusahaan tertentu hendak membangun jalan pada daerah tertenetu dan pemerintah daerah setempat juga mengajukan anggaran untuk pekerjaan yang sama. Ruas jalan yang dibangun dengan sumberdaya dari perusahaan, nyatanya diakui sebagai proyek pembangunan pemerintah daerah. Pelaksanaan CSR semesti tidak demikian. Bahkan, CSR seharusnya dapat mendorong perwujudan kondisi tanpa korupsi (dan cici-ciri lain good governance, seperti transparansi) di tubuh perusahaan maupun pemerintahan ,LSM dan masyarakat.CSR harus berupaya meminimumkan dampak negatif atau externalities akibat dari keberadaan perusahaan. Apabila perusahaan hendak menjalankan program CSR maka sebaiknya dilakukan dengan transparansi maksimum. Dan karena CSR adalah manajemen dampak operasi, batasannya terlebih dulu harus didefinisikan agar perusahaan tidak memikul beban lebih berat dari yang seharusnya ditanggung. Yang juga penting adalah membuat kesepakatan dengan seluruh pemangku kepentingan berkenaan dengan tanggung jawab masing-masing pihak. Termasuk tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat dan perusahaan.sehingga tidak ada celah bagi LSM nakal untuk masuk dalam inti permasalahan.
Contoh perusahaan yg telah menerapkan CSR
CSR Goal Indosat Bertumbuh, mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta Peduli kepada masyarakat. Program CSR di tahun 2008 memiliki tema khusus “Indosat Cinta Indonesia”, yang kemudian pada tahun 2009, tema CSR Indosat berkembang menjadi “Satukan Cinta Negeri” sebagai bentuk refleksi komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai perusahaan di Indonesia yang Peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta upayanya untuk senantiasa berkarya, memberikan manfaat, serta mengajak peran serta seluruh stakeholder untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang merupakan terjemahan dari keinginan masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program sosial Indosat.
Program Indosat “Satukan Cinta Negeri” diterapkan melalui berbagai aktifitas antara lain adalah:
Program yang telah dilakukan akan terus berjalan dan ditingkatkan kualitasnya. Seluruh program CSR yang dilaksanakan oleh Indosat akan terus dievaluasi secara berkala agar betul-betul dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan Bangsa Indonesia sesuai CSR Goal Indosat.
Betapapun besarnya masalah yang dihadapi dunia pendidikan, kesehatan, lingkungan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, maka setiap langkah nyata yang dilakukan oleh Indosat merupakan tahapan yang berarti untuk menuju masa depan yang lebih baik.
sumber :
http://www.indosat.com/corporate_responsibility dan www.wikipedia.com
boni.agung@gmail.com / http://info-csr.blogspot.com
adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. COntoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.
Manfaat CSR bagi masyarakat.
CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.
KEUNTUNGAN BAGI ORGANISASI ATAU PERUSAHAAN YANG
MELAKUKAN PROGRAM CSR
Hingga saat ini masih terjadi perdebatan di anatara para akedemisi dan praktisi dan entrepreneur antara yang menyatakan CSR hanya menambah beban perusahaan dan yang meyakini kinerja sosial penting dan berdampak hubungan positif dengan provit . Pendapat tidak menguntungkan biasanya mengikuti pendirian Milton Friedman atau, baru-baru ini, David Henderson, yang melabel CSR sebagai misguided virtue atau kebaikan yang salah alamat.Sedangkan menurut Friedman dan Henderson berpendirian bahwa tanggung jawab berada di pundak individu, bukan perusahaan. Sebaliknya kalangan yang melihat kekuasaan bisnis kini sudah sangat besar, tidak setuju perusahaan tak dapat diwajibkan pertanggungjawaban terhadap tindakan organisasi nya. Kebijaksanaan universal menyetujui bahwa tanggung jawab membesar bersamaan dengan kekuasaan, sebab itu perusahaan tidak lagi dapat mengelak dengan kewajiban menyisihkan sebagian dari provitnya untuk program CSR.
Sejumlah besar penelitian telah membuktikan kinerja sosial dan kinerja finansial perusahaan berkorelasi positif. Dan karenanya perdebatan mengenai keuntungan menjalankan CSR sesungguhnya dapat dianggap sudah berakhir. Penelitian Marc Orlitzky, Frank Schmidt, dan Sara Rynes pada 2003, menggunakan data 52 penelitian sebelumnya dengan jumlah kasus 33.878 perusahaan yang merentang selama 30 tahun, merupakan bukti terkuat hingga saat ini. Kalau pun ada yang ’’membuktikan sebaliknya, bahwa tidak ada kaitan erat antara kinerja sosial dengan kinerja finansial perusahaan, kesimpulannya hanya didasarkan pada kasus-kasus anekdotal berskala kecil.
Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan dari bisnisnya. Dengan melakukan CSR tujuan ini dapat terpenuhi. Telah ditunjukkan oleh banyak studi kasus, perusahaan memperoleh banyak keuntungan bila keberadaan jangka panjangnya terjamin. Keberlangsungan perusahaan ini erat berkait dengan reputasi, yang diperoleh melalui hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan. Di era ini hampir mustahil perusahaan menggunakan perlindungan kekuatan- kekuatan represif tanpa mengorbankan reputasinya. CSR menjadi pilihan menjaga keberlanjutan eksistensi perusahaan melalui reputasi yang baik; dan bukan hubungan dengan kekuatan represif. Jika perusahaan hanya mementingkan keuntungan finansial pada jangka pendek dan mengorbankan aspek-aspek sosial dan lingkungan yang terjadi sehingga yang terjadiadalah . Ketidakpedulian terhadap aspek sosial akan menuai protes masyarakat yang bisa mengganggu kelacaran dari operasional dari suatu organisasi atau perusahaan (semisal demonstrasi atau boikot).
Terhadap aspek lingkungan, selain reaksi masyarakat, disinsentif juga diterima disinsentif dari pemerintah. Akibatnya, selain biaya operasi membengkak, reputasi perusahaan tercoreng dan pada gilirannya dicerminkan dengan turunnya nilai saham. Implikasi berikut yang mengancam adalah keengganan investor membiayai proyek baru. Maka dari sudut pandang ini, CSR dengan triple bottom line-nya tentu adalah investasi
sangat berharga. Banyak di temukan permasalahan di Indonesia menunjukkan, curahan investasi sosial perusahaan dapat menimbulkan moral hazard berupa perilaku korup pada lembaga- lembaga pemerintah dan LSM Misalnya, ketika diketahui perusahaan tertentu hendak membangun jalan pada daerah tertenetu dan pemerintah daerah setempat juga mengajukan anggaran untuk pekerjaan yang sama. Ruas jalan yang dibangun dengan sumberdaya dari perusahaan, nyatanya diakui sebagai proyek pembangunan pemerintah daerah. Pelaksanaan CSR semesti tidak demikian. Bahkan, CSR seharusnya dapat mendorong perwujudan kondisi tanpa korupsi (dan cici-ciri lain good governance, seperti transparansi) di tubuh perusahaan maupun pemerintahan ,LSM dan masyarakat.CSR harus berupaya meminimumkan dampak negatif atau externalities akibat dari keberadaan perusahaan. Apabila perusahaan hendak menjalankan program CSR maka sebaiknya dilakukan dengan transparansi maksimum. Dan karena CSR adalah manajemen dampak operasi, batasannya terlebih dulu harus didefinisikan agar perusahaan tidak memikul beban lebih berat dari yang seharusnya ditanggung. Yang juga penting adalah membuat kesepakatan dengan seluruh pemangku kepentingan berkenaan dengan tanggung jawab masing-masing pihak. Termasuk tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat dan perusahaan.sehingga tidak ada celah bagi LSM nakal untuk masuk dalam inti permasalahan.
Contoh perusahaan yg telah menerapkan CSR
CSR Goal Indosat Bertumbuh, mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta Peduli kepada masyarakat. Program CSR di tahun 2008 memiliki tema khusus “Indosat Cinta Indonesia”, yang kemudian pada tahun 2009, tema CSR Indosat berkembang menjadi “Satukan Cinta Negeri” sebagai bentuk refleksi komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai perusahaan di Indonesia yang Peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta upayanya untuk senantiasa berkarya, memberikan manfaat, serta mengajak peran serta seluruh stakeholder untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang merupakan terjemahan dari keinginan masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program sosial Indosat.
Program Indosat “Satukan Cinta Negeri” diterapkan melalui berbagai aktifitas antara lain adalah:
Program yang telah dilakukan akan terus berjalan dan ditingkatkan kualitasnya. Seluruh program CSR yang dilaksanakan oleh Indosat akan terus dievaluasi secara berkala agar betul-betul dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan Bangsa Indonesia sesuai CSR Goal Indosat.
Betapapun besarnya masalah yang dihadapi dunia pendidikan, kesehatan, lingkungan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, maka setiap langkah nyata yang dilakukan oleh Indosat merupakan tahapan yang berarti untuk menuju masa depan yang lebih baik.
sumber :
http://www.indosat.com/corporate_responsibility dan www.wikipedia.com
boni.agung@gmail.com / http://info-csr.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)
